Tak Hanya Satu Bintang
Tak Hanya Satu Bintang
by Sulthan Millenio
Siang
itu cukup terik dan panas. Aku dan keluargaku dalam perjalan menuju bandara.
Jalanan kota agak lengang mungkin karena teriknya matahari yang membuat malas
para pengendara untuk keluar. Di dalam mobil mamaku berkata "ketika di
bandara nanti jangan sampai tertinggal ya". Dalam hati aku berkata
"aku sudah gede mana mungkin aku tertinggal". Sesampainya di bandara
aku membantu papaku menurunkan tas dan koper dari bagasi, sedangkan mamaku
membayar taksi. "Kamu bawa yang kecil saja, yang ini berat" kata
papaku kepadaku. Sebuah keuntungan bagiku membawa bawaan yang sepadan dengan
tubuhku yang masih terbilang kecil. Lalu kami sekeluarga pun berjalan untuk
check in. Suasana di bandara pun tidak kuduga akan seramai ini. Lalu lalang
troley yang membawa barang pun menambah hiruk pikuk di bandara. Hingga kami
sampai di barisan yang mengular cukup panjang. Papaku membawa barang yang akan
dimasukan ke bagasi. Di ujung barisan aku melihat layar bertuliskan "Jogjakarta".
Ya aku akan liburan kesana. Namun yang membuat aku penasaran adalah kata kata
diatasnya "Wings Air". Aku tau itu nama pesawat yang akan kunaiki
namun aku penasaran akan bentuknya. Setelah beberapa menit menunggu akhirnya
papaku menghampiriku dengan membawa beberapa lembar tiket. Aku melihatnya.
Diatas tertulis "Wings Air". "Ya tentu saja itu yang tertulis
karena apalagi yang alan ditulis paling atas selain nama pesawat?"
Pikirku. Lalu aku pun mengekor papa dan mamaku. Dan sampailah kami di ruang
tunggu. Disitu lumayan ramai tetapi kami masih dapat tempat duduk. Aku masih
penasaran dengan tiket tadi, maka aku meminta ke papaku. "Pa coba liat
tiketnya". Lalu papaku memperlihatkanku salah satu tiketnya sambil
menjelaskan. "Ini kita akan naik pesawat wings kamu duduk di nomor 21a". Aku pun hanya mengangguk
saja dan kembali ke duduk. Hingga saat ada pengumuman bahwa pesawat yang akan
kunaiki pun siap. Kami pun berbaris menuju pintu yang telah ada petugas yang
siap mengecek tiket kami. Saat pintu dibuka terdengar suara yang cukup bising
ditelingaku. Suara yang belum pernah kudengar. Aku pun memeluk mamaku dengan
takut. Mamaku pun berkata "udah gakpapa kok itu cuma suara mesin
pesawat". "Hah.. senyaring itukah suara mesinnya?" Kataku dalam
hati. Hingga akhirnya kami berada di ujung barisan dan keluar dari ruang
tunggu. Disini aku melihat berbagai macam pesawat dengan ukuran yang berbeda-
beda. Aku senang bercampur takut karena ini pertama kalinya aku akan naik
pesawat. Lalu aku melihat pesawat bertuliskan "Wings air" di
badannya. Aku terkagum kagum dengan pesawat ini. Bentuknya yang panjang, namun
bukan itu yang kukagumi. Aku sangat terpaku melihat letak mesin yang berada di
belakang itu yang berbeda
dengan pesawat lain disekitar sini. Aku pun menaiki tangga dan disambut dengan senyuman
pramugari. Aku pun mengikuti papa mamaku dan sampailah kami di tempat duduk
21a. Itu adalah tempat dudukku. Dan betapa senangnya aku tempat duduk tersebut
berada di dekat jendela. Mataku berbinar binar melihat ke segala arah di dalam
maupun luar pesawat. Lalu terasalah pesawat mulai bergerak. Mamaku memakaikanku
sabuk pengaman. Di bagian depan pesawat terdapat pramugari yang memeragakan
sesuatu. Aku pun mengabaikan itu dan terpaku ke jendela pesawat. Melihat keluar pesawat ada mobil, truk dan segala
macam kendaraan yang belum pernah kulihat. Senyumku pun mulai memudar saat
pesawat siap untuk lepas landas. Tiba tiba suara mesin yang tadinya bersahabat
berubah. Aku pun melihat ke mamaku dan memeluknya. Rasa senang ku pun berubah
menjadi ketakutan. Ketakutan ku pun bertambah ketika melihat bagian sayap
pesawat itu bergerak seakan jatuh. Aku memeluk erat mamaku dan tiba tiba
pesawat pun sudah melayang. Saat sudah mengudara rasa takutku pun memudar. Aku
melihat keluar jendela dan pemandangannya sangat indah. Sungai, rumah,
perbukitan semua terlihat. Dari pengalaman inilah aku sangat ingin menjadi
pilot. Ya bagaimana tidak, setiap hari aku akan bersama pesawat dan melihat
pemandangan seindah ini. Sebuah cita cita yang sangat aku inginkan.
Hari
pun bergulir seiring berjalannya waktu. Masa sd dimana aku pertama kalinya naik
pesawat selalu kuingat. Sekarang aku sudah belasan kali naik pesawat. Bukan
hanya nama maskapai yang kukenal namun juga nama pesawat bahkan hingga nama
bagian bagiannya. Saking tergila gilanya dengan pesawat aku pun memiliki
simulator pesawat di laptopku. Aku tidak sabar waktu dimana aku bisa
menerbangkan pesawat yang asli.
Matahari
masih belum terbit namum aku sudah terbangun. Ya wajar saja sekolahku lumayan
jauh sehingga aku harus bangun pagi. Setelah
sarapan dan mandi aku pun berangkat ke sekolah. Aku bersekolah di salah satu
sekolah yang terkenal di Samarinda. SMA Negeri 10 Samarinda. Hari biasa di
sekolah. Semua guru masuk dan kegiatan belajar normal. Ya cukup membosankan
memang tapi itulah cara agar aku bisa menggapai cita citaku. Saat jam istirahat
tiba aku ngobrol sedikit dengan Tika di sela jam istirahat yang singkat. “eh
tik.. kira kira kalo mau jadi pilot lanjut sekolah kemana ya...?” kataku.
“ooo.. kamu mau jadi pilot tohh.. itu kamu masuk di sekolah tinggi penerbangan
aja” jawabnya. “tapi itu ada dimana ya?” aku bertanya lagi. “ada banyak sihh..
tapi ada 1 yang terkenal.. yang di curug itulo.. itu di tangerang.. disitu ada
beasiswanya.. kamu daftar disitu aja.” Jawabnya kembali. “ooo.. gitu toh ok sip
dehh.. makasii ya infonya.” Tiba tiba bel masuk pun berbunyi. Aku pun berdiri
sambil berkata “yaudah aku balik ke kelasku dulu ya.”. “ya udah sonoo”
jawabnya. Aku memang beda kelas dengan Tika namun kami sudah akrab mulai dari
kelas X. Akrab tentu saja dalam artian teman. Ya walaupun ada rasa, tetapi
tidak ada salahnya hanya berteman kan.
Setelah
sekolah selesai akupun langsung mencari info tentang sekolah penerbangan yang
tadi Tika infokan. Lalu akupun berbicara dengan mamaku tentang keinginanku
untuk masuk ke sekolah penerbangan. Namun mamaku seperti menolak keinginanku. “
hah.. kamu mau masuk sekolah pilot?! Kamu tau berapa biayanya?!” kata mamaku
sedikit teriak. “tapikan ma.. disitu ada program beasiswanya” jawabku. “iya
beasiswa tapi nanti ujung ujungnya bayar juga.. kamu tau biaya sekolah pilot tu
ratusan juta.. kamu nda kasian sama papamu kah yang kerja hasilnya pas buat
kita makan.. untung aja dulu papa ada rejeki dan beliin kamu motor” kata
mamaku. Aku pun masuk ke kamar dengan kesal. “huh.. masa cita cita anaknya
sendiri nda didukung” gumamku. Akupun mengambil hpku dan chat Tika. “tik”
pesanku. Beberapa menit chatku tak kunjung dibalas. “hahhh” kesalku. Aku pun
menjadi cukup kesal dan tidur. Keesokan harinya di sekolah. Saat istirahat
kedua aku pun ke kelas Tika. Aku langsung duduk disebelahnya dengan wajah
kesal. “mukamu kenapa sih.. senyum coba” dia memulai pembicaraan. “chat tu coba
dibales kek” dengan nada kesal. “ooo.. kamu kesal karna itu.. hpku kmaren
jatoh.. jadi masih di servis” jawabnya sambil ngambil hpku dan memainkannya. “hmm” dengan nada
yang masih kesal. “kenapa lagi sihh.. cerita dungg” katanya dengan muka
memelas. Aku sedikit ketawa dan mencubit pipinya. “itu.. mamaku ndamau
daftarkan aku ke sekolah penerbangan mahal katanya”. “oooh begitu.. yaudah
ikuti ajalah.. lagian kan kasian juga ortumu” katanya masih sambil mengutak
atik hpku. “iyasih.. tapikan kalo cita citanya mau kesana gimana” kataku.
“udahh ikuti aja lah.. noh udah masukan.. balik ke kelas sana” katanya sambil
memberikan hpku.
Di rumah aku masih
kesal. Namun mau gimana lagi, apa yang dikatakan Tika mungkin ada betulnya tapi
aku masih saja kesal. Bayangkan saja cita citamu yang kamu impikan sejak sd
terhalang dengan biaya sekolah penerbangan yang mahal. Apa boleh buat, aku juga
merasa kasian sama papaku yang sudah berusaha untuk menyekolahkanku.
Hari demi hari
terlewati, akhirnya waktu ujian nasional pun tiba. Di benakku masih terpikir
jurusan apa yang kuambil setelah lulus. Bahkan di hari pertama ujian aku
seperti tidak ada semangat. Namun Tika selalu menyemangatiku. Dia itu
moodboosterku. Tiap aku kepikiran akan beban setelah lulus, Tika menyemangatiku
bahkan memberikan saran untuk memilih jurusan.
Ujian pun selesai. 4
hari ujian serasa seminggu bagiku. Jauh dari hp, tv, komik dan tentu saja
laptopku. Tapi untungnya tiap hari aku bertemu Tika. Jika tidak, mungkin aku
mati kebosanan kali. Aku pun tinggal menunggu hasil dan entah kemana aku akan
melanjutkan sekolah nantinya. Hingga hari yang ditunggu pun tiba. Kami semua
lulus dengan nilai yang cukup memuaskan. Tidak terkecuali Tika. Dia sangat
senang dengan nilainya yang cukup untuk dia masuk ke universitas terkenal di
Yogya.
Setiap ada pertemuan
pasti ada perpisahan. Beberapa minggu setelah pengumuman kelulusan sekolah
mengadakan pesta perpisahan. Disitu semua emosi bercampur dan melebur. Senang,
sedih, haru, semua bercampur. Aku sangat senang akhirnya lulus dan meninggalkan
sekolah menengah. Namun juga sedih akan kebersamaan angkatan kami. Juga sedih
akhirnya pertemanan selama 3 tahun dengan Tika berpisah disini.
Aku mendaftar ke salah
satu universitas terkenal di Bandung dan mengambil teknik pesawat. Ya tentu saja
aku tidak bisa move on dari pesawat. Entah bagaimana nasibku nanti jika aku
tidak masuk ke jurusan ini. Teman- temanku punya plan A, plan B. Namun yang ada
dipikiranku hanya Airbus, Boeing. Tapi aku bersyukur, Allah swt mengabulkan
keinganku masuk ke jurusan Teknik pesawat. Walaupun tidak terlalu kuinginkan
namun setidaknya aku tetap mempelajari pesawat.
Aku pun masuk di
Institut Teknologi Bandung jurusan Teknik Pesawat. Aku juga cukup bangga karena
aku masuk di salah satu universitas yang juga diidamkan teman- temanku. Aku
juga mendengar kabar bahwa Tika diterima di universitas keinginannya
Universitas Gadjah Mada.
Masa masa kuliah cukup
menyenangkan bagiku. Setiap harinya mempelajari fisika, matematika dan berbagai
macam hitungan. Yang padahal dulunya aku tidak menguasai bahkan tidak mengerti
sampai sampai aku benci pelajaran tersebut, namun sekarang aku malah
menyukainya. Semester demi semester, tahun demi tahun. Alhamdullilah akhirnya
aku wisuda. Kelulusan masa kuliahku mungkin tidak diisi dengan bumbu sedih. Ya
tentu saja, karena sesaat sesudah lulus aku sudah ditawari kerja di salah satu
anak perusahaan maskapai terbaik di Indonesia. Aku sangat senang sekali.
Walaupun bukan menjadi yang menerbangkan, aku bisa menjadi yang memperbaiki.
Aku bekerja sebagai salah satu Teknisi Pesawat di Garuda Maintenance Facilities
AeroAsia. Sebuah kebanggaan untuk bekerja di fasilitas hanggar perbaikan
terbesar di Asia Tenggara. Juga sekarang aku bukan hanya melihat 1 atau 2
pesawat tetapi puluhan pesawat yang siap untuk perawatan. Mungkin inilah cita
cita yang tidak kuimpikan namun sangat kucintai. Yang dulunya aku takut dengan
suara mesin pesawat, sekarang aku hampir tiap hari berada di sebelah mesin.
Walaupun aku tidak dapat melihat keindahan pemandangan dari ketinggian,
setidaknya aku bisa melihat keindahan maha karya burung besi ini.